Biar Nggak Banyak Yang asal Hujat, Lihat Ni Suka Duka Jadi Perawat


Literasi Perawat ~ Sejak video seorang wanita yang mengaku telah dilecehkan secara seksual oleh perawat di Rumah Sakit Nasional Surabaya, profesi ini mendapat sorotan serius. Meski tanggal 4 Februari 2018 sudah ada klarifikasi dari organisasi profesi PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), bahwa yang bersangkutan tidak melanggar kode etik keperawatan alias bekerja sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur), tetap saja, profesi keperawatan terlanjur terluka karena banyaknya hujatan dan perawat tersebut masuk penjara.

Toh, sebenarnya bukan kali pertama kinerja perawat dibuat bahan berita yang kemudian digoreng nitizen. Masih ingat video heroik Gubernur Zumi Zola yang mengamuk di rumah sakit seperti menggrebek pengedar narkoba? Ahh, ya, pasti masih dong. Di mesin pencarian saja terdapat 60.300 berita, kok. Belum lagi yang masuk televisi saban hari. Tendangan kursi dan tong sampah sambil maki-makinya itu, lho, tanpa babibu lebih dulu.

Tapi baiklah, terlepas dari itu semua, saya hanya ingin berbagi cerita, tentang dunia keperawatan yang tak banyak orang tahu. Tidak direkam dan disebarluaskan. Tidak viral dan tidak masuk media massa.

1. Perawat hamil

Jika kalian sering mendengar seorang ibu kehilangan bayinya, maka pekerjaan ini bisa jadi yang paling rentan untuk ibu hamil. Bahkan keguguran menjadi momok yang tidak dapat dihindari. Mau lari ke manapun, menjadi perawat dengan perut membuncit tentu tak baik. Kelelahan menjadi alasan utama mengapa janin-janin itu tak mampu bertahan di dalam perut hingga 39 minggu.

Ini menyakitkan. Benar. Ketika mencurahkan segala waktu dan tenaga untuk pasien hamil, pasca melahirkan, dan tangis bayi orang lain. Perawat itu justru kehilangan bayi mungil dari rahimnya. Dengan banyaknya kejadian ini pula, belum ada kebijakan khusus perihal pengurangan beban kerja untuk mengurangi resiko.

2. Perawat juga bisa sakit

Ketika bekerja, seorang perawat dituntut fokus, cepat dan sigap. Jangankan untuk makan dan minum, ke toilet saja rasanya tak sempat. Bel-bel panggilan dari ruang rawat terus saja berbunyi. Apalagi jika ada kondisi darurat, di ruang emergency dengan pasien membludak, ICU yang banyak pasien kritis, hingga ruang operasi yang harus berdiri belasan jam untuk sebuah pembedahan. Maka bukan hal yang mustahil jika perawat jatuh sakit, bahkan pingsan saat bertugas. 

Tapi apakah sakit itu membuat mereka lemah? Tentu saja tidak, mereka lebih memilih menulis laporan pasien dengan satu tangan diinfus daripada pulang ke rumah. Ya, rasa tanggung jawab yang tinggi membuat profesionalitas bak mendarahdaging. Pantang pulang sebelum pasien tenang.

3. Rawan tertular beragam penyakit 

Kata siapa jadi perawat itu aman nyaman? Dijamin sehat karena lebih paham mengenai penyakit dan pencegahannya? Duh, meski telah di vaksin, para tenaga medis yang saban hari berkeliaran di rumah sakit tetap rentan tertular infeksi nosokomial, jenis infeksi yang didapat dari rumah sakit. "Hypermarket penyakit justru di rumah sakit," kata dokter spesialis okupasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Muchtaruddin Mansyur, dalam seminar Penyebaran Infeksi di Rumah Sakit, di Laboratorium Mikrobiologi Klinik FKUI.

Memang, perawat diwajibkan mencuci tangan dan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) saat melakukan tindakan pada pasien, tapi yang namanya kuman dan bakteri kan tidak bisa diajak kompromi. Apalagi resiko tertusuk jarum bekas pakai pasien, hmm, bisa senut-senut kepala. Seorang perawat bahkan harus segera cek darah di laboratorium jika tanpa sengaja tertusuk jarum. Duh, niat menolong malah jadi rumput makan tanaman, ya.

4. 'Dihajar' keluarga pasien

27 Desember 2016, seorang perawat dan dokter yang bekerja di salah satu RSUD di Kalimantan Timur, dipukuli keluarga pasien. Meski sudah ditangani kepolisian dan pelaku ditahan, tetap saja perawat tersebut harus dirawat karena luka dalam. Sayangnya berita ini tak sampai booming hingga memenuhi lini masa. Ya, tentu saja, karena pihak perawat yang dirugikan. Untuk apa disebarluaskan? Anggap saja perawat sudah terbiasa dianaktirikan.

Tak hanya di Indonesia, penganiayaan juga terjadi pada perawat di Tiongkok. Tanggal 8 Desember 2017, hanya karena anaknya menangis saat disuntik, sang ibu menendang perut perawat. Padahal perawat tersebut sedang mengandung 6 minggu. Alhasil, terjadi perdarahan hebat dan harus dirawat karena resiko tinggi keguguran. Ternyata, di negara manapun, kekerasan pada perawat tetap terjadi. Padahal tak hanya kekerasan fisik semata. Dibentak, dihina, dan di-bully secara langsung maupun di media massa -yang juga termasuk kekerasan verbal dan psikologis- menjadi makanan sehari-hari seorang perawat. 

5. Meninggal karena kelelahan

Masih segar diingatan, Elen Dewan Fitri Sirait, perawat di RS Efarina, Pangkalan Kerinci, meninggal dunia di kamar mess rumah sakit karena kelelahan bekerja pada tanggal 4 Juli 2017. Kemudian disusul dengan perawat di Taiwan yang juga meninggal dunia karena dinas selama 13 hari nonstop tanpa libur. Jasadnya ditemukan pada tanggal 26 November 2017 oleh penghuni asrama lain. Maka, bukan lagi isapan jempol jika pekerjaan merawat ini memang berat.

Dibalik tuntutan tampil prima dan tersenyum setiap melayani pasien, ada duka dan lara menyelip diantara keduanya. Menyaksikan teman sejawat menghembuskan napas karena sebuah pekerjaan, pantaslah jika memang disebut perawat, malaikat tanpa sayap.

Kelima hal diatas hanya segelintir lara yang harus diterima seorang perawat. Menurut UU RI. No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimiliki diperoleh melalui pendidikan keperawatan.

Maka, kata menyerah sepertinya tak pernah dicetak di kamus keperawatan. Bagaimanapun, pendidikan keperawatan membuat jiwa seperti terpaut, bahwa “jika bukan kita yang peduli, lalu siapa lagi?” Padahal, peran perawat yang tertuang di Konsorsium Ilmu Kesehatan tahun 1989 tak hanya memberi asuhan keperawatan, tetapi juga menjadi advokat pasien, edukator, koordinator, kolaborator, konsultan dan peneliti.

Meskipun profesi ini sudah renta dan terluka, para perawat akan tetap setia di garda terdepan kesehatan. Meski nitizen telah menyumpah serapah di media, mereka akan tetap mengulurkan bantuan saat ada bencana. Meski caci maki jatuh seperti hujan deras menghujam jantung, perawat akan tetap berdiri, menjadi embun menyegarkan saat masyarakat sakit dan butuh perawatan.

Gimana? Masih mau jadi perawat?

Kalaupun tidak, tolong untuk berhenti menjatuhkan profesi ini, ya. Pesan Dilan, “tidak mencintai, bukan berarti membenci.” Jika tidak mencintai seorang perawat atau tak betah menjadi perawat, bukan berarti harus membenci dan mudah menghujat, kan?
Iwansyah
Iwansyah Seorang Penulis Pemula Yang Mengasah Diri Untuk Menjadi Lebih Baik

Post a Comment for "Biar Nggak Banyak Yang asal Hujat, Lihat Ni Suka Duka Jadi Perawat"