Menjadi Perawat Yang Bahagia Karena Manfaat


SLPI ~ Saya adalah seorang mahasiswa yang masih belajar mengenal profesi keperawatan. Ya, profesi yang terkadang kurang diakui keberadaannya tetapi dibutuhkan oleh masyarakat. Mengapa ? Mungkin karena perawat yang diketahui oleh masyarakat hanya mereka yang bekerja di rumah sakit. Eksistensinya sebatas sebagai asisten dokter. Kata siapa ? Banyak yang mengatakan seperti itu, termasuk orangtua saya.

Orangtua saya selalu membanggakan putrinya yang pernah lolos di Kedokteran Perguruan Tinggi Swasta dan kemudian karena pertimbangan biaya akhirnya saya memilih Ilmu Keperawatan di Perguruan Tinggi Negeri. Saat itu saya tidak sedikitpun menyesal, apalagi marah. Entahlah, saya merasa senang bisa menempuh pendidikan profesi ini meskipun saya pun belum banyak mengerti. Satu tekad saya adalah kelak saya akan membuktikan bahwa pilihan ini dapat bermanfaat dan membanggakan orang tua.

Selama saya mengikuti pembelajaran di kampus, ada hal yang membuat saya tertarik untuk semakin mengenal profesi ini. Bukan sekedar ilmunya yang mengajarkan bahwa perawat sebagai tenaga kesehatan yang profesional mempunyai kesempatan paling besar untuk memberikan pelayanan/asuhan keperawatan yang komprehensif dengan membantu klien memenuhi kebutuhan dasar holistik mencakup aspek biologis, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual; tetapi karena dosen-dosen dan kakak tingkat yang mendidik saya arti penting dari soft skill dan caring.

Berbekal ilmu dasar keperawatan yang baru diperoleh selama tiga semester, tiba waktunya saya dan teman-teman angkat janji. Kami akan praktik klinik ke rumah sakit daerah yang disebar ke beberapa kota. Berbagai perasaan yang kami miliki saat itu. Ada yang takut, sedih, dan senang. Saya termasuk yang menelan semua perasaan itu. Takut karena saya akan mengemban kewajiban besar, menghadapi pasien-pasien dengan berbagai penyakit dan karakteristik mereka. Sedih ketika mengucapkan janji dan menyanyikan lagu-lagu dengan khusuk. Ada beberapa lirik lagu yang membuat saya terharu, yaitu ketika kami menyanyikan lagu dengan lirik berikut :

Seputih sebersih seragam mu
Seikhlas setulus hati mu
Dikaulah pengabdi sesama manusia
Penolong para penderita
Tak bedakan golongan tiada kenal waktu
Engkau berikan senyuman mu
Tingkatkan bakti, teruskan upaya
Menuju sehat untuk semua

Liriknya menyentuh. Setiap kata yang dinyanyikan bukan sekedar lirik lagu yang diucapkan mengikuti alunan irama sesuai komando sang dirigen, tetapi makna dari lirik tersebut yang menggambarkan sosok perawat. Kita adalah perawat, yang harus terlihat lebih semangat karena kitalah yang harus menyemangati pasien beserta keluarganya. Mereka yang sedang resah dan lelah dengan hidup mereka. Kita harus terlihat lebih kuat karena kitalah yang harus menguatkan mereka. Perawat yang berusaha bekerja dengan cinta dan memiliki amanah mewujudkan Indonesia sehat. Dan saya merasa senang karena saya bisa menjadi bagian dari profesi perawat.

Tidak banyak implementasi yang dapat saya lakukan selama praktik klinik perdana itu. Masih sebatas observasi, asistensi, dan implementasi keperawatan dasar. Namun, saya cukup banyak belajar dari pengalaman selama empat minggu tersebut. Saya mengamati bagaimana perawat bekerja menghadapi pasien dan berkolaborasi dengan dokter. Pernah kecewa karena ilmu yang saya terima di kampus hanya teori yang sulit diaplikasikan di klinik. Perawat bekerja hanya sebagai rutinitas dan bukan menunjukkan hubungan kolaborasi, tetapi menjadi asisten dokter lebih tepatnya. Padahal katanya mitra, entahlah. Adapula yang bertemu pasien dan keluarga tanpa senyum, padahal tanpa mereka (pasien dan keluarga) perawat tidak akan belajar menangani kasus untuk meningkatkan kompetensinya. Memang tidak semua perawat seperti itu tetapi saya merasa mayoritas begitu.

Saya lebih banyak belajar implementasi caring saat itu. Saya memiliki dua telinga dan satu mulut. Mendengarkan lebih baik daripada berbicara, kata orang-orang seperti itu. Ya, memang benar. Awalnya saya yakin bahwa dengan saya mendengarkan keluh kesah mereka maka saya turut membantu meringankan beban mereka. Mendengarkan kesedihan mereka menyadarkan saya bahwa masalah yang saya hadapi tidaklah sebanding mereka. Mereka mengajarkan saya untuk tidak mudah mengeluh. Cukupkah saya membantu mereka? Tidak. Ternyata mereka justru yang banyak membantu saya. Adapula mereka yang tetap bersemangat dan ceria menjalani perawatan. Bersosialisasi dengan pasien lainnya di kamar kelas III. Mereka mengajarkan saya bahwa apapun yang terjadi, bersyukurlah dan bertahan dengan kekuatan yang ada. Itulah alasan mengapa saya sebut mereka sebagai guru kehidupan.

Menjadi Perawat Tanggap Bencana

Selanjutnya saya menikmati kembali atmosfer kampus. November 2010, saat itu bencana erupsi gunung Merapi terjadi. Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas kampus saya bekerja sama dengan sebuah Lembaga Kemanusiaan memiliki program untuk mengirimkan relawan ke Muntilan Magelang. Relawan yang terlibat adalah mahasiswa keperawatan yang dipilih melalui proses seleksi wawancara. Banyak teman-teman yang tertarik untuk bergabung. Alhamdulillaah, saya termasuk salah satu yang mendapatkan amanah diterima sebagai relawan, tim social volunteer (SV) namanya. Sebelum berangkat, kami mendapatkan pelatihan sebagai bekal selama di lokasi pengungsian.

Kami berangkat secara periodik. Saya mendapatkan kesempatan berangkat gelombang pertama bersama sembilan belas mahasiswa lainnya pada tanggal 13 dan 14 November 2010. Kami dibagi dalam 10 kelompok sehingga terdapat dua relawan di satu titik posko pengungsian. Disana kami memberikan pelayanan secara holistik. Melakukan tindakan preventif dengan pendidikan kesehatan, kuratif dengan melakukan kolaborasi bersama dokter dan ahli gizi, serta rehabilitatif melalui aktivitas trauma healing dan posko nutrisi dengan mencetak kader nutrisi.

Ini yang cukup menarik. Mereka yang tinggal di pengungsian mendapatkan pelayanan kesehatan, makanan, dan tempat istirahat. Tentu ala kadarnya, tetapi cukup memenuhi kebutuhan mereka. Namun, ada satu hal yang terkadang dilupakan. Kebutuhan koping, rekreasi, dan spiritual mereka. Di aspek inilah kami mencoba mengisi sesuai ilmu profesi yang diajarkan. Memberikan berbagai terapi agar menjaga senyum kebahagiaan mereka. Kami memberikan trauma healing berupa terapi kelompok (memasak, bercerita), motivation group, terapi individu, home visit, terapi bermain (bercerita, menggambar, origami) dan terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT therapy). Hasilnya, kami dapat bahagia bersama mereka.

Mahasiswa Aktivis Keperawatan

Tahun kedua kuliah, saya belajar berorganisasi baik internal maupun eksternal kampus. Saya bergabung di empat bidang organisasi berbeda, yaitu staf departemen advokasi, staf riset, reporter majalah kampus, dan koordinator komunitas mahasiswa daerah. Disanalah saya belajar berbagai hal yang mendukung peningkatan kapabilitas saya.

Selama menjadi staf advokasi, saya dikenalkan dengan kebijakan publik. Saya baru mengetahui bahwa profesi ini belum dilindungi oleh payung hukum bernama Undang-Undang Keperawatan. Saya dan teman-teman himpunan berusaha melakukan diskusi, seminar, konsolidasi, bahkan negosiasi bersama teman-teman mahasiswa keperawatan satu region, dosen di kampus, pakar hukum keperawatan dan tata negara, serta teman-teman kebijakan publik yang berbeda jurusan. Saya belajar mengenai kebijakan yang sejak dahulu tidak sedikitpun saya tertarik untuk mengenalnya. Namun akhirnya saya sadar, kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memperjuangkan hak-hak profesi ini ? Tunjukkan kalau perawat juga mampu mengemban amanah di ranah hukum dan profesi keperawatan sangat layak mendapatkan perlindungan.

Menjadi staf riset di sebuah Kelompok Studi Islam Ilmu Keperawatan membuka pikiran saya bahwa keperawatan memiliki aspek yang sangat luas, yang belum banyak disentuh oleh kita. Saya belajar bersama kakak tingkat bagaimana teknik menulis karya tulis ilmiah berbasis ilmu Keperawatan dan Islam. Saya mahasiswa, calon perawat, dan beragama Islam. Jadi, tunggu apa lagi untuk menulis ? Bukankah mahasiswa memiliki peran sangat besar sebagai director of change ? Bukankah perawat memilki potensi untuk memberikan keperawatan holistik di berbagai bidangnya ? Komunitas, maternitas, pediatrik, gerontik, medikal bedah, jiwa, manajemen, dan lainnya. Luas bukan ? Bahkan Islam juga mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Sebaik-baiknya manusia ialah yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain (Hadits Riwayat Bukhari) . Bukankah dengan menulis adalah salah satu upaya menjadi orang yang bermanfaat ? Begitu pikir saya. Karena itu, saya dan teman-teman mencoba membentuk kelompok untuk menyusun karya tulis dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh  Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia (DIKTI).

Tahun 2012, kami, Mahasiswa Universitas Diponegoro mengajukan proposal berjudul Pesantren Lansia sebagai Upaya Meminimalkan Risiko Penurunan Fungsi Kognitif pada Lansia di Balai Rehabilitasi Sosialisasi Unit II Pucang Gading Semarang. Alhamdulillaah, proposal kami lolos pendanaan. Kami terdiri dari lima orang, dimana empat mahasiswa dari Ilmu Keperawatan dan satu mahasiswa dari Psikologi. Tim dibimbing oleh ibu Ns. Nurullya Rachma, S.Kep., M.Kep yang merupakan dosen Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas UNDIP. Program pesantren lansia dimulai sejak Rabu 29 Februari 2012 dan diakhiri dengan pelaksanaan festival pesantren lansia pada hari Rabu 18 Juli 2012. Meskipun singkat, program ini cukup bermanfaat memberikan kontribusi ke komunitas, khususnya komunitas gerontik. Ternyata memang pemenuhan kebutuhan spiritual, yang kadang terabaikan, memilki peran dalam meminimalkan risiko penurunan fungsi kognitif pada lansia dan mereka pun hidup lebih bahagia.

Tahun ini, saya dan teman-teman membentuk kelompok PKM Pengabdian Masyarakat lagi dengan anggota berbeda dan sasaran berbeda pula. Kami dibimbing oleh ibu Sari Sudarmiati, M.Kep.,Ns. Sp.Kep.Mat yang merupakan dosen Departemen Keperawatan Maternitas UNDIP. Kami bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang dan Puskesmas Ngesrep untuk melakukan Posyandu Maternal dan Paternal Insya Allah mulai pada bulan Januari 2013. Meskipun belum dapat dipastikan kami mendapat pendanaan dari DIKTI, kami berusaha melakukan kerjasama dengan sebuah perusahaan dan lembaga kemanusiaan sehingga Insya Allah program ini akan tetap berjalan. Semoga program ini pun didukung oleh DIKTI, aamiin

Menjadi reporter majalah kampus dan koordinator komunitas mahasiswa daerah asal Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan (E.Com Semarang) menambah pengalaman dan membantu saya memperluas jaringan. Saya dapat mengenal orang-orang hebat yang saya wawancarai, saya dapat memiliki teman dari berbagai universitas khususnya di Semarang, dan saya semakin senang menulis artikel atau apapun. Pada tahun ini, saya juga mendapatkan amanah untuk menjadi kepala divisi hubungan mayarakat di Social Volunteer Ilmu Keperawatan dan staf legislasi Senat Fakultas Kedokteran UNDIP. Hal ini menambah pengalaman saya mengenal berbagai karakter dan latar belakang ataupun profesi orang lain. Disinilah saya belajar berkolaborasi. Selama berhubungan dengan orang lain tentu kita menghadapi suatu perbedaan. Namun menurut saya, tugas utama kita tak selalu harus menyempurnakan apa yang dimiliki orang lain agar menjadi baik sesuai keinginan kita tetapi tugas kita adalah memberi penerimaan dan membangun suasana terapeutik. Itu adalah salah satu yang saya pelajari dari profesi kita, keperawatan.

Sebagai seorang mahasiswa yang belum memilki banyak pengalaman menggeluti dunia profesi keperawatan, saya belum bisa menceritakan banyak hal. Namun, saya telah menikmati profesi ini. Keperawatan mengajarkan saya banyak hal, tidak hanya ilmu pengetahuan tetapi juga ilmu kehidupan. Saya jadi teringat dengan kata-kata teman saya, Mitsalina Maulida Hafizh. Begini...

Adakah ilmu yang lebih berharga ketimbang ilmu tentang kehidupan? Ketika kita belajar tentang kehidupan, mustahil kita tidak belajar tentang kematian. Setiap hari kita dituntun untuk terus melakukan kebaikan. Membagi senyum kepada mereka (pasien dan keluarganya), menanyakan kabar dan memperhatikan mereka, mendiskusikan kondisi mereka dengan tim kesehatan untuk kebaikan mereka, dan ini, terjaga dini hari hanya untuk menyuntikkan obat mereka, berjalan perlahan agar langkah kita tidak membangunkan mereka, mendengarkan keluh kesah keluarga mereka sembari melihat mereka terlelap. Indah kan? Asal kita tulus, asal kita ikhlas.
Jangan diam saja. Buatlah perubahan besar. Ya! Untuk kita, mereka, dan untuk dunia. Menyebarlah kalian ke semua pelosok bumi. Temukan berkah di sana dan jadilah yang bermanfaat di sana. Jangan pernah menyesal pernah mengenal bidang kita saat ini. Sungguh, bidang kita ini, profesi kita ini, terlalu indah untuk sekedar disesali. Dan nantinya, untuk kita yang mungkin benar-benar menjadi perawat, ingat apa yang pernah kita tanamkan semasa kuliah ya, teman. Jangan sampai idealisme kita tergilas uang. Jangan sampai caring kita tergilas rutinitas. Titip ini juga, bisa membayangkan, apa jadinya dunia tanpa kita? Tersenyumlah. Karena dunia membutuhkan kita. Berbagilah. Karena dunia membutuhkan kita.

Saya sangat sepakat dengan yang ia katakan, terimakasih kawan ^^ Semoga kita bisa menjadi perawat yang bahagia karena bermanfaat. aamiin

Penulis : Sitha Ramadhani Amanatunnisa
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan UNDIP Semarang
Angkatan 2009
Iwansyah
Iwansyah Seorang Penulis Pemula Yang Mengasah Diri Untuk Menjadi Lebih Baik

Post a Comment for "Menjadi Perawat Yang Bahagia Karena Manfaat"